Kamis, 26 April 2012

Sedih

Ya Allah....sungguh bahagianya hatiku mengenalnya,
Serasa ingin memiliki dia seutuhnya, seakan tak sabar menantikan saat dimana aku halal baginya.
Aku tulus menyayanginya...,bahkan melebihi  diriku sendiri.
Terlalu rasanya cintaku ini, tapi inilah ketidakberdayaanku yang begitu sayangi dirinya...,menerimanya..., bersabar untuknya, dan mencoba untuk tegar walau sebenarnya aku sangat lemah tanpa kabarnya walau hanya sedetik.


Aku sangat bahagia saat bersamanya.....
namun apa dayaku bila dia tak bahagia saat bersamaku???
ia tak nyaman dengan cinta dan kasih sayangku....
Aku ingin melihatnya bahagia....
namun kebahagiaannya bukanlah denganku.


Ya Illahi Rabbi....,  Yang Maha Rahman dan Maha Rahim.......
Haruskah aku melepasnya agar aku bisa melihat raut kebahagiaan itu diwajahnya??
AKU TAK SANGGUP YA ALLAH....
sungguh...aku terlalu lemah tanpa dia.



 

Kamis, 19 April 2012

Untuk Mujahidku

Belum datang saatnya bagiku untuk menetap pada satu hati saja.
Yang dengannya aku bisa merasakan kebahagiaan yang tenang.
Yang dengannya aku bisa berbagi beban.
Dia masih ‘tersimpan’ di belahan bumi jihad yang lain.
Entah dimana... aku tak tahu.
Yang pasti dia ada, menunggu waktu yang tepat untuk bersanding dan membawaku ke rumah cintanya.
Dan mempercayakan rumah jiwanya hanya padaku saja.

Siapapun engkau, wahai mujahidku, tetaplah berada di jalan cahaya yang dimana di jalan inilah kita akan dipertemukan.
Bersatu mempersembahkan segala daya untuk tegaknya Agama ini di rumah kita.
Ya, peradaban itu akan kita mulai dari rumah kita. Kan kita semai bibit unggul yang kan menjelma ruh-ruh baru bagi umat ini. Juga menjadikan rumah kita adalah madrasah pertama dan utama sebelum sekolah mereka yang lain.
Dari rumahlah mereka belajar tentang Allah dan segala penciptaanNnya.
Dan aku, akulah yang akan menjadi garda terdepan dan ibu terbaik buat mereka.
Dan engkau, engkaulah yang akan menjadi pemimpin dan panutan buat mereka.
Ya, kita akan menjadi orang tua paling hebat. Setujukah mujahidku??

Doakan aku wahai mujahidku... Agar aku senantiasa berada dalam kesucian yang hanya akan kupersembahkan padamu.
Segala cinta dan pengabdianku, semampuku.
Kelak jika aku telah menjadi permaisurimu, tarbiyahlah aku dengan ilmumu.
Ingatkan segala kesalahanku.Dan  aku pun takkan membiarkanmu dalam kelalaian.
Ya, kita akan menjadi pasangan sempurna yang akan saling menyempurnakan. Bukan begitu mujahidku?

Hmmm, rasanya aku tak sabar lagi menunggu hari terindah itu.
Satu hari dimana tonggak suci kan terpancangkan dengan kuat, mitsaqon ghalidzo.
Tak ada yang bisa memisahkan kita selain kematian, bukan?
Bahkan kita berazzam untuk bersama hingga ke jannahNya.
Itulah sebaik-baiknya tempat.

Saat ini, yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berusaha. Agar kelak kita menyongsong pernikahan agung itu dengan “sempurna” hingga keberkahan menyelimuti rumah hati kita.
Amiin.