Untuk Mujahidku
Belum datang
saatnya bagiku untuk menetap pada satu hati saja.
Yang dengannya
aku bisa merasakan kebahagiaan yang tenang.
Yang dengannya aku
bisa berbagi beban.
Dia masih ‘tersimpan’ di belahan bumi jihad
yang lain.
Entah dimana... aku tak tahu.
Yang pasti dia ada,
menunggu waktu yang tepat untuk bersanding dan membawaku ke rumah
cintanya.
Dan mempercayakan rumah jiwanya hanya padaku saja.
Siapapun
engkau, wahai mujahidku, tetaplah berada di jalan cahaya yang dimana
di jalan inilah kita akan dipertemukan.
Bersatu mempersembahkan
segala daya untuk tegaknya Agama ini di rumah kita.
Ya, peradaban
itu akan kita mulai dari rumah kita. Kan kita semai bibit unggul yang
kan menjelma ruh-ruh baru bagi umat ini. Juga menjadikan rumah kita
adalah madrasah pertama dan utama sebelum sekolah mereka yang lain.
Dari
rumahlah mereka belajar tentang Allah dan segala penciptaanNnya.
Dan
aku, akulah yang akan menjadi garda terdepan dan ibu terbaik buat
mereka.
Dan engkau, engkaulah yang akan menjadi pemimpin dan
panutan buat mereka.
Ya, kita akan menjadi orang tua paling hebat.
Setujukah mujahidku??
Doakan aku wahai mujahidku... Agar
aku senantiasa berada dalam kesucian yang hanya akan kupersembahkan
padamu.
Segala cinta dan pengabdianku, semampuku.
Kelak jika
aku telah menjadi permaisurimu, tarbiyahlah aku dengan ilmumu.
Ingatkan
segala kesalahanku.Dan aku pun takkan membiarkanmu dalam kelalaian.
Ya,
kita akan menjadi pasangan sempurna yang akan saling menyempurnakan. Bukan begitu mujahidku?
Hmmm, rasanya aku tak sabar lagi
menunggu hari terindah itu.
Satu hari dimana tonggak suci kan
terpancangkan dengan kuat, mitsaqon ghalidzo.
Tak ada yang bisa
memisahkan kita selain kematian, bukan?
Bahkan kita berazzam
untuk bersama hingga ke jannahNya.
Itulah sebaik-baiknya tempat.
Saat
ini, yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berusaha. Agar kelak
kita menyongsong pernikahan agung itu dengan “sempurna” hingga
keberkahan menyelimuti rumah hati kita.
Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar